MANADO,FokuslineNews — Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sempat memicu antrean panjang kendaraan roda dua dan empat di berbagai wilayah Sulawesi Utara beberapa waktu lalu menjadi alarm penting bagi pemangku kepentingan daerah. Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara menilai insiden ini membuktikan perlunya sistem kesiapsiagaan dan koordinasi yang jauh lebih matang dalam menghadapi potensi gangguan distribusi energi.
Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Sulut, Kombes Pol. FX. Winardi Prabowo, saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) Lintas Komisi DPRD Sulut di Manado, Senin (20/10/2026). Rapat strategis ini digelar untuk mengevaluasi karut-marut antrean BBM di sejumlah kabupaten/kota sekaligus membedah efektivitas pola distribusi yang berlaku.
Di hadapan para legislator, Winardi secara terbuka mengakui bahwa insiden kelangkaan kemarin membuka mata banyak pihak bahwa daerah belum sepenuhnya siap menghadapi situasi darurat di sektor energi. Menurutnya, penanganan krisis distribusi tidak boleh hanya dibebankan kepada satu institusi tunggal.
“Walaupun Sulut dikenal kondusif, kejadian kemarin membuka mata dan menyadarkan kita bahwa kita sebenarnya belum siap menghadapi situasi seperti itu. Penanganan krisis ini bukan hanya tugas kepolisian, DPRD, atau Pertamina saja, melainkan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi erat,” ujar Winardi.
Berdasarkan penelusuran awal, pihak kepolisian menduga kelangkaan BBM tersebut tidak disebabkan oleh unsur kesengajaan atau aksi penimbunan, melainkan lebih dipengaruhi oleh faktor alam yang mengganggu jalur logistik. Kendati demikian, Winardi menekankan bahwa peristiwa ini harus menjadi momentum evaluasi total agar tata kelola dan manajemen distribusi energi di Sulawesi Utara ke depannya bisa lebih terencana, tanggap, serta adaptif terhadap situasi darurat.(LN)

0 comentários:
Posting Komentar