MANADO,FokuslineNews-- Suasana Aula Mapalus Kantor Gubernur Sulawesi Utara, Senin 3 Agustus 2026, mendadak berubah menjadi ruang penuh imajinasi. Tidak ada sekat antara pemimpin dan anak-anak. Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling (YSK), memilih duduk bersila di lantai bersama ratusan anak yang mengikuti peringatan Hari Anak Nasional dan Festival Anak Sulawesi Utara.
Dengan senyum hangat, YSK membuka sebuah buku dongeng. Tak lama kemudian, suara anak-anak yang semula riuh perlahan menghilang, berganti tatapan penuh rasa ingin tahu. Mereka larut mengikuti kisah "Tumou Penjaga Mimpi dari Tanah Nyiur Melambai", sebuah cerita yang bukan sekadar dongeng pengantar tidur, tetapi juga pesan tentang masa depan generasi Sulawesi Utara.
"Anak-anakku, mari dengarkan cerita dari Tanah Nyiur Melambai," ucap YSK mengawali dongengnya, membawa anak-anak memasuki petualangan Tumou, seorang bocah yang sedang mencari jati diri dan cita-citanya.
Dalam cerita itu, Tumou ditemani seekor tarsius kecil bernama Tutu untuk menemukan tiga harta paling berharga bagi masa depan anak-anak.
Perjalanan pertama membawa Tumou menemukan arti kasih sayang. Di sebuah kampung yang dipenuhi anak-anak dari berbagai suku dan agama, ia melihat bagaimana kepedulian tumbuh tanpa memandang perbedaan.
Ketika seorang anak terjatuh, semua temannya bergegas menolong. Dari situlah lahir pesan luhur falsafah Minahasa, Si Tou Timou Tumou Tou manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain. Pesan itu mengajarkan bahwa setiap anak berhak dicintai, didengar, dan dibesarkan dengan kasih.
Petualangan berikutnya membawa Tumou ke pesisir Bunaken. Di tengah keindahan laut biru, ia menyadari bahwa perlindungan bukan hanya untuk alam, tetapi juga bagi setiap anak.
Dalam dongeng itu, YSK mengingatkan anak-anak agar berani berbicara kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya ketika menghadapi kekerasan, perundungan, maupun ancaman di dunia digital.
Pesan sederhana itu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, membuat anak-anak mengangguk-angguk mengikuti alur cerita.
Harta ketiga yang ditemukan Tumou adalah masa depan. Melalui semangat Mapalus, budaya gotong royong masyarakat Sulawesi Utara, YSK menggambarkan bahwa masa depan anak tidak pernah dibangun sendirian.
Orang tua, guru, masyarakat, hingga pemerintah memiliki tanggung jawab yang sama untuk menghadirkan ruang tumbuh yang aman dan penuh kesempatan bagi anak-anak. Sebaliknya, anak-anak juga harus rajin belajar, hidup sehat, menyayangi sesama, dan berani mengejar cita-cita.
Di bagian akhir cerita, Tumou tumbuh menjadi seorang pemimpin yang mengingat satu kalimat sederhana sebagai rahasia menjadi hebat: "Jadilah manusia yang membuat manusia lain ikut tumbuh."
Kalimat itu kembali menegaskan filosofi Si Tou Timou Tumou Tou, yang menjadi benang merah seluruh dongeng sekaligus identitas budaya Sulawesi Utara.
Sesekali YSK menghentikan ceritanya untuk berinteraksi dengan anak-anak. Senyum, tawa, hingga tepuk tangan memenuhi aula.
Tidak sedikit anak yang tampak antusias menjawab pertanyaan dan mengulang kalimat-kalimat yang disampaikan sang gubernur. Suasana formal peringatan Hari Anak Nasional pun berubah menjadi ruang belajar yang hangat dan menyenangkan.
Menjelang akhir dongeng, YSK mengajak seluruh anak mengucapkan satu janji bersama: "Sayang Anak dengan Kasih, Lindungi Anak dengan Berani, Bangun Masa Depan Mulai Hari Ini."
Ia kemudian menutup kisahnya dengan pesan agar anak-anak terus bermain, belajar, berbuat baik, dan tidak pernah berhenti bermimpi karena merekalah masa depan Sulawesi Utara dan Indonesia.
Melalui cara yang sederhana duduk melantai, bercerita, dan mendengarkan tawa anak-anak YSK memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak selalu hadir lewat pidato panjang.
Di Hari Anak Nasional 2026, ia memilih menyampaikan harapan lewat dongeng, menjadikan kisah Tumou sebagai pengingat bahwa anak-anak yang hari ini disayangi, dilindungi, dan diberi kesempatan untuk bermimpi, kelak akan menjadi generasi yang membangun Bumi Nyiur Melambai dan Indonesia.(LN*)

0 comentários:
Posting Komentar